Belanja Yuk..!!

April 28, 2009

Rabu, 8 April 2009,  siswa-siswi kelas IV Ishaq dan Ismail  SD Muhammadiyah Plus Mojokerto telah melaksanakan kegiatan jual beli di pasar modern yaitu Gajah Mada Swalayan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembelajaran secara langsung tentang proses kegiatan jual beli, mulai dari produsen sampai konsumen.dsc023871

Di sini siswa-siswi praktek membeli barang kebutuhan sehari-hari dan berinteraksi dengan pramuniaga dan kasir.

dsc023901

Surprise yang luar biasa, di luar dugaan kami ternyata anak-anak mendapatkan Voucher sebesar Rp. 5000,-/siswa (program ini diperuntukkan khusus bagi siswa-siswi SD Muhammadiyah Plus Mojokerto). Walhasil, anak-anak merasa senang dan puas bisa berbelanja sendiri.

dsc012661

Tidak kalah menariknya dengan berbelanja di Gajah Mada Swalayan, anak-anak juga melakukan kegiatan jual beli di pasar tradisional, Pasar Tanjung Mojokerto dengan dibagi menjadi 8 kelompok, masing-masing dari mereka mendapat tugas untuk berbelanja sesuai dengan instruksi.

dsc012711

Diantaranya, ada yang berbelanja ikan lele, cumi-cumi, bumbu dapur, sayur dan buah. Sungguh sebuah pembelajaran yang menyenangkan dan benar-benar memberikan kontribusi positif bagi siswa-siswi kelas IV. Surprise juga, di luar dugaan kami anak-anak dikerumuni oleh para pembeli lain karena tertarik dengan model pembelajaran jual beli secara langsung, terutama saat menawar harga ikan

Special thanks to: Team guru kelas IV ( Bu Juli, Bu Ismi, Bu Nur, Bu Asih, Bu Fetty, Pak Tibyanu dan Pak Hijrah) yang telah men-support kegiatan pembelajaran outdoor ini dengan baik..!

Advertisements

Berhitung Perkalian Cepat dari Pangeran Aritmatika dan Pangeran Geometri

April 27, 2009

Pangeran Aritmetika riang gembira, karena Ar (panggilan akrab Pangeran Aritmetika) menemukan sebuah ide tentang aritmetika.

“Dik Ge, ini Kakak menemukan cara cepat berhitung perkalian,” ujar Ar kepada Ge (panggilan akrab Pangeran Geometri).

“Apaan tuh…?” Pangeran Geometri menimpali.

“Coba kamu hitung 21×41 = ….?”

“Baik…!” jawab Ge sambil mencari kalkulator.

“Hei…hei…Tidak perlu pakai kalkulator!” kata Ar.

“Mana bisa?”

“Pasti bisa.”

“Aku cari kertas sama pensil dulu deh…” kata Ge.

“Ini juga tidak perlu kertas dan pensil!”

“Ini Kak Ar ajari….

Bayangkan perkalian bersusun

21

41

—x

2 x 4 = ….berapa?”

” 8, ” jawab Ge

“(2×1)+(1×4) = …berapa?”

“Hmmm….2+4…= 6.”

“1 x 1 = ….berapa?”

“Tentu 1,” jawab Ge.

“Jadi jawabannya adalah 8…6….1 yaitu = 861,” kata Pangeran Aritmetika.

“Hanya begitu?” Pangeran Geometri kagum.

“Kak Ar memang hebat!”

“Kak Ar juga yakin Dik Ge pasti juga hebat.”

“Saya akan mencoba menghitungnya pakai gambar. Boleh tidak?”

“Pasti boleh. Dik Ge kan memang hebat dalam gambar-menggambar.”

“Gambarkan sebuah persegi panjang…”perintah Pangeran Geometri.

“Bentar-bentar…Kak Ar ambil pensil sama kertas dulu,” jawab Pangeran Aritmetika.

“Tidak perlu kertas dan pensil Kak…” Dik Ge mencegah.

“Boleh…jadi kita main-main imajinasi saja,” Kak Ar setuju.

“Bayangkan gambar persegi panjang dengan ukuran panjang 20 + 1…

Sisi yang 20 warnanya merah.

Sisi yang 1 warnanya biru.”

“Baik…Kak Ar sudah terbayang…”

“Sekarang bayangkan lebarnya adalah 40 + 1…

Sisi yang 40 berwarna merah.

Sisi yang 1 berwarna biru.”

“Baik…aku paham.”

“Berapa luas yang merah x merah?”

“Maksudnya?”

“Maksudnya sisi panjang yang berwarna merah x sisi lebar yang berwarna merah.”

“Hmmm….20×40 = 800,” jawab Ar.

“Berapa luas warna merah x biru?”

“Hmmm….20×1= 20…dan 1×40 = 40. Dijumlahkan menjadi 60,” jawab Ar.

“Berapa luas biru x biru?”

“1 x 1 = 1.”

“Jadi berapa luas seluruhnya?”

“800 + 60 + 1 = 861… Hebat kamu Ge…!” seru Pangeran Aritmetika.

“Siapa dulu kakaknya dong….”

Mereka tertawa bersama-sama… bergembira.

“Di mana adik kecil kita, Pangeran Aljabar?”

“Oh…ya kok tidak kelihatan dari tadi.”

“Kita cari yuk…Pasti Dik Al punya cara tersediri.”

Pangeran Aritmetika berjalan riang gembira bersama Pangeran Geometri ingin mencari adik kecilnya Pangeran Aljabar yang akrab dipanggil dengan Al.

dikutip dari sini


Berkreasi melalui Tembikar

April 25, 2009

SD Muhammadiyah Plus Mojokerto mengadakan Outdoor Activity

“Cintai Produk dalam Negeri Melalui Tembikar”

Siswa siswi SD Muhammadiyah Plus Mojokerto, Rabu (22/4) kembali mengadakan Outdoor Activity ke pengrajin tembikar yang ada di desa Mlaten-Puri Mojokerto.

Kegiatan Outdoor ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan 2 kali dalam satu tahun dengan tujuan mengembangkan wawasan siswa dengan pembelajaran di luar sekolah.

Tema Outdoor kali ini adalah cintai produk dalam negeri melalui tembikar. Tembikar merupakan perabotan yang terbuat dari tanah liat dan dibentuk, seperti, pot bunga, asbak, cobek, anglo (sejenis kompor dari tanah liat). Melalui kegiatan ini kita dapat tanamkan rasa bangga dan cintai produk dalam negeri yang selama ini mulai punah tergeser oleh produk luar negeri.

Di sisi lain, kegiatan ini juga dapat menanamkan kewirausahaan, karena dengan usaha sendiri seseorang tidak akan kebingungan mencari kerja, ungkap ‘Ngataji, pengrajin tembikar yang pernah mendapat penghargaan dari ibu Tien Suharto, istri mantan Presiden RI era orde baru, sekaligus pemilik sanggar Bima Kunti ini.

Outdoor diikuti sebanyak 35 siswa siswi kelas 3, dengan 5 guru pendamping: Nuril Jannah, SHI, Sri Rahayu, S.Pd, Ana Aliyah, S.Pd, Rahayuningtyas, S.Pd, M. Nur Hadi, SE. Siswa langsung dapat praktik hingga selesai, setelah mendapat bimbingan dari Ngataji, seorang pengrajin tembikar.

foto31

foto22

foto40


Dogma: Kisah Sebuah Pot

April 11, 2009

Seorang ayah mempunyai pohon bonsai kesayangan yang ditanam dalam sebuah pot. Si ayah tersebut begitu sayangnya dengan bonsai itu dan rajin merawatnya.  Setiap hari dia menyirami tanaman tersebut.  Suatu ketika, si ayah jatuh sakit, maka dia memanggil anaknya.  “Nak, tolong sirami pohon di pot itu,” katanya.  Si anak menuruti pesan ayahnya. Dia menyirami tanaman dalam pot itu.  Ketika si ayah kembali sehat, maka pohon itu kembali disiram si ayah.  Hingga tibalah umur si ayah, maka ketika menjelang ajal dia berpesan kepada anaknya, “Ayah titip kau rawat tanaman itu.”  Lalu meninggallah si ayah.  Si anak melanjutkan pesan itu dengan baik.  Setiap hari dia menyirami tanaman di pot itu.

Waktu berlalu, suatu ketika si anak kemudian menjadi seorang ayah.  Dia memiliki seorang anak.  Setiap hari si anak melihat ayahnya menyirami pot.  Tak lama kemudian meninggal juga si ayah ini meninggalkan seorang anak yang berbakti.  Setelah ayahnya meninggal, si anak ini ingat bahwa ayahnya sering menyirami tanaman di pot itu.  Maka dia melanjutkan terus dengan menyiram tanaman di pot tersebut.

Lalu si anak tumbuh dan menjadi seorang ayah.  Dia memiliki anak.  Ketika menjelang ajal si ayah berpesan kepada anaknya, “Nak, kakekmu dulu mewariskan pot itu.  Beliau amat menyayanginya.  Tolong kamu rawat dengan menyiraminya setiap hari.”  Lalu si ayah meninggal dunia, meninggalkan seorang anak yang berbakti.  Sayang, suatu ketika si anak pergi keluar kota cukup lama.  Ketika kembali pulang, tanaman di pot itu telah mati sehingga daunnya berguguran dan tinggal hanya seonggok tunggul batang kering.  Namun si anak ini tetap mengingat pesan ayahnya, maka dia sirami tunggul batang kering itu setiap hari.

Si anak kemudian menjadi seorang ayah.  Dia memiliki anak yang berbakti.  Dia melanjutkan pesan ayahnya dulu kepada anaknya,”Nak, kakekmu mewasiatkan agar kita menjaga pot ini.  Siramlah setiap hari.”  Lalu tibalah ajalnya, dan anak yang berbakti itu melanjutkan menyiram pot itu.  Setelah lama waktu berjalan, tunggul pohon mati dalam pot itupun lapuk dan akhirnya musnah.  Tinggallah pot itu tanpa tanaman.

Si anak kini telah menjadi seorang ayah.  Dia memiliki seorang anak yang berbakti.  Ketika si ayah ingat pesan bapaknya dulu, maka dia mewasiatkannya kembali kepada anaknya,”Nak, kakekmu pernah berpesan, kita harus merawat pot ini dengan menyiraminya setiap hari.  “Ketika ajal si ayah telah tiba, si anak melaksanakan wasiat ayahnya dengan penuh kekhusukan.

Akhirnya dari generasi ke generasi, keluarga itu terus mewariskan tradisi menyiram pot keramat itu.

__________________________________________________________

Sound familiar? Itulah yang terjadi ketika sebuah masyarakat mewariskan agama, tradisi, dan pendidikan-pendidikan tanpa menjelaskan kembali esensi dari hal yang diwariskan.  Yang akhirnya dilakukan adalah menjalani ritual menyiram pot.  Mereka tidak tahu bahwa menyiram pot hanya berguna bila di dalamnya ada pohon.  Mereka mungkin tidak tahu, tidak ingin tahu, atau bahkan tidak peduli….

dikutip dari sini


Syukur Alhamdulillah

April 4, 2009

Siapa yang tidak berbahagia campur haru… di tengah kita kekurangan, tiba2 rejeki datang tanpa diduga dan dinyana.. Seperti yang dialami SD Muhammadiyah Plus ini.  Pembangunan gedung kelas yang tahun lalu dikejar target memindahkan 2 lokal kelas yang ada di Jl. Bhayangkara 65, menguras habis kas infaq pembangunan.. so tahun ini yang planning kami harus menyelesaikan 2 lokal kelas 5 jadi terseok-seok dan terpaksa harus mencari dana sulapan (dana apa ya???) untuk melanjutkan gerilya…

Belum habis dana sulapan terpakai, tiba2 Allah menurunkan mukjizatnya (waduh lebay amat ya…) membantu kaum dhu’afa (haduh2.. memangnya SD kami termasuk kaum dhu’afa ya?)… Atas bantuan komite Sekolah, Dermawan dari Surabaya mentransfer 100 juta untuk membantu pembangunan gedung SD… Alhamdulillah..

Semoga.. apa yang telah diberikan, mendapatkan imbalan dari Allah swt.. Amiin!!

Kegembiraan dan syukur masih terus kami dapatkan seiring aktifitas yang dilakukan siswa-siswi kami.  Lomba2 yang diikuti telah menghasilkan sejumlah prestasi yaitu:

  1. Lomba sains kuark: berhasil memasuki semi final
  2. Lomba puisi putra sekota Mojokerto(dinas P dan K): berhasil menggondol juara 3
  3. Lomba puisi putri sekota Mojokerto (dinas P dan K): berhasil menggondol juara 2

Selamat kepada ananda Naufal (kelas 3) dan Meutia (kelas 3)… Sukses untuk semuanya… kapan yg laen menyusul????