Dogma: Kisah Sebuah Pot

Seorang ayah mempunyai pohon bonsai kesayangan yang ditanam dalam sebuah pot. Si ayah tersebut begitu sayangnya dengan bonsai itu dan rajin merawatnya.  Setiap hari dia menyirami tanaman tersebut.  Suatu ketika, si ayah jatuh sakit, maka dia memanggil anaknya.  “Nak, tolong sirami pohon di pot itu,” katanya.  Si anak menuruti pesan ayahnya. Dia menyirami tanaman dalam pot itu.  Ketika si ayah kembali sehat, maka pohon itu kembali disiram si ayah.  Hingga tibalah umur si ayah, maka ketika menjelang ajal dia berpesan kepada anaknya, “Ayah titip kau rawat tanaman itu.”  Lalu meninggallah si ayah.  Si anak melanjutkan pesan itu dengan baik.  Setiap hari dia menyirami tanaman di pot itu.

Waktu berlalu, suatu ketika si anak kemudian menjadi seorang ayah.  Dia memiliki seorang anak.  Setiap hari si anak melihat ayahnya menyirami pot.  Tak lama kemudian meninggal juga si ayah ini meninggalkan seorang anak yang berbakti.  Setelah ayahnya meninggal, si anak ini ingat bahwa ayahnya sering menyirami tanaman di pot itu.  Maka dia melanjutkan terus dengan menyiram tanaman di pot tersebut.

Lalu si anak tumbuh dan menjadi seorang ayah.  Dia memiliki anak.  Ketika menjelang ajal si ayah berpesan kepada anaknya, “Nak, kakekmu dulu mewariskan pot itu.  Beliau amat menyayanginya.  Tolong kamu rawat dengan menyiraminya setiap hari.”  Lalu si ayah meninggal dunia, meninggalkan seorang anak yang berbakti.  Sayang, suatu ketika si anak pergi keluar kota cukup lama.  Ketika kembali pulang, tanaman di pot itu telah mati sehingga daunnya berguguran dan tinggal hanya seonggok tunggul batang kering.  Namun si anak ini tetap mengingat pesan ayahnya, maka dia sirami tunggul batang kering itu setiap hari.

Si anak kemudian menjadi seorang ayah.  Dia memiliki anak yang berbakti.  Dia melanjutkan pesan ayahnya dulu kepada anaknya,”Nak, kakekmu mewasiatkan agar kita menjaga pot ini.  Siramlah setiap hari.”  Lalu tibalah ajalnya, dan anak yang berbakti itu melanjutkan menyiram pot itu.  Setelah lama waktu berjalan, tunggul pohon mati dalam pot itupun lapuk dan akhirnya musnah.  Tinggallah pot itu tanpa tanaman.

Si anak kini telah menjadi seorang ayah.  Dia memiliki seorang anak yang berbakti.  Ketika si ayah ingat pesan bapaknya dulu, maka dia mewasiatkannya kembali kepada anaknya,”Nak, kakekmu pernah berpesan, kita harus merawat pot ini dengan menyiraminya setiap hari.  “Ketika ajal si ayah telah tiba, si anak melaksanakan wasiat ayahnya dengan penuh kekhusukan.

Akhirnya dari generasi ke generasi, keluarga itu terus mewariskan tradisi menyiram pot keramat itu.

__________________________________________________________

Sound familiar? Itulah yang terjadi ketika sebuah masyarakat mewariskan agama, tradisi, dan pendidikan-pendidikan tanpa menjelaskan kembali esensi dari hal yang diwariskan.  Yang akhirnya dilakukan adalah menjalani ritual menyiram pot.  Mereka tidak tahu bahwa menyiram pot hanya berguna bila di dalamnya ada pohon.  Mereka mungkin tidak tahu, tidak ingin tahu, atau bahkan tidak peduli….

dikutip dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: