Cerita Ramadhan

enam tahun berlalu, namun masih terbayang kenangan berdirinya SD Muhammadiyah Plus…. kini… menjelang Ramadhan, saatnya kami bebenah diri untuk akreditasi..

Banyak kegiatan sebenarnya menjelang Ramadhan ini, tapi inilah kisah yang patut diambil hikmahnya..

“Telor  dan Tempe gosong”

Empat puluh tahun telah berlalu, namun masih terbayang jelas kenangan indah itu:

Suatu hari, ibu yang telah bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, harus bangun jam tiga pagi menyiapkan sahur  yang sangat sederhana dengan lauk telur dadar, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek karena masih mengantuk, tempe dan telor gorengnya agak gosong! Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak dapat  berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang melihat telor dan tempe gosong, pasti capek melihat sahurnyahanya tempe dan telur gosong.

Luar biasa!  Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, “Bu terima kasih ya!” Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya & adik besok di sekolah.

Selesai sahur, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: “Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong, malah enak.”

Setelah subuh, saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe gosong?”

Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata, “Anakku, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek. Jadi sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun kok!”

Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; “Belajar menerima kesalahan orang lain,  adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi. Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada dan selalulah berpikir dewasa mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri… Janganlah kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti😉

 

pak nurhadi sedang memandu pemeriksaan mata

 

 

siswa kelas 4 menjalani psikotest

 

pawai ta'aruf menyambut Ramadhan 1432 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: