membangun karakter utama untuk kemandirian dan kemajuan bangsa

November 24, 2011

Menjelang akhir tahun 2011, banyak agenda kegiatan yang dilaksanakan SD Muhammadiyah Plus.  Selain kegiatan rutin keagamaan berupa penyembelihan hewan kurban sebanyak 2 ekor sapi dan 7 ekor kambing pada tanggal 7 Nopember 2011, SD Muhammadiyah Plus juga menyelenggarakan Outdoor Activity yang bertujuan memberikan bentuk pembelajaran langsung ke objek belajar.  Outdoor Activity semester ini diselenggarakan untuk masing-masing kelas dengan tujuan yang berbeda-beda.  Kelas 1 dan 2 dengan tema lingkungan, mendatangkan tim dari Pemadam Kebakaran kota Mojokerto.  Kelas 3 dengan tema budaya berkunjung ke Museum Mojopahit dan Candi di Trowulan.  Kelas 4 untuk pembelajaran IPS dan PKn melakukan kunjungan ke SPN (Sekolah Polisi Negara) di Jl. Raya Bangsal.  Sedangkan untuk kelas 5 dan 6 mengadakan observasi pembuatan mie di PT. Suprama Sidoarjo–produsen mie burung dara– yang merupakan salah satu donatur buku-buku perpustakaan SD Muhammadiyah Plus.

Akhir tahun 2011 ditutup dengan kegiatan peringatan tahun baru hijriah 1433 dan Milad Muhammadiyah ke-102/ke-99 bertema membangun karakter utama untuk kemandirian dan kemajuan bangsa yang dilaksanakan tanggal 26 Nopember 2011 dengan penyampaian tausiah oleh ustadz Wahyudi, S.Ag dari Sidoarjo.  Akhir tahun ini juga SD Muhammadiyah Plus diuji dengan fenomena akreditasi yang tidak sesuai dengan harapan sekolah.  “Ada indikasi kecurangan penilaian oleh asesor ketika point-point penilaian yang rendah kami konfirmasi dengan asesor yang bersangkutan” ungkap Ibu Ami Fauzijah, ST, MT selaku kepala Sekolah.  “Kecurangan-kecurangan semacam ini akan kami usut terus, apalagi ada isu bahwa asesor punya standar minimal “sangu” untuk nilai akreditasi tertentu” tambah bu Ami

Namun demikian, apapun itu, tidak melunturkan tekad dan niat ikhlas SD Muhammadiyah Plus untuk tetap menjunjung tinggi kejujuran dan kerja keras.  “Allah akan memberikan hikmah dan pelajaran dari semua kejadian, saya percaya hal itu” demikian bu Ami mengakhiri.

Advertisements

Sekolah tanpa komputer?

November 13, 2011

KOMPAS.com — Silicon Valley terkenal sebagai tempat berkumpulnya
perusahaan-perusahaan teknologi dunia. Namun, para petinggi
perusahaan-perusahaan di Silicon Valley justru menyekolahkan anak mereka di
sekolah yang tidak memiliki komputer sama sekali di Waldorf School of The
Peninsula.

Di era digital dan komputasi saat ini, mengapa petinggi Google, Apple,
Yahoo, dan Hewlett-Packard (HP) menyekolahkan anak mereka di sana?

Sebagian besar sekolah-sekolah di Amerika sedang berlomba-lomba untuk
menjadikan sekolah mereka menjadi sekolah digital dengan memasukkan
pendidikan komputer ke dalam kurikulum dan memasok komputer dalam jumlah
besar. Sekolah Waldorf justru sebaliknya, yang sebisa mungkin menjauhkan
anak-anak dari komputer dan menekankan pendidikan kepada aktivitas fisik
dan belajar secara kreatif. Alat-alat belajar yang digunakan para siswa
adalah pena, kertas, bahkan bisa menggunakan alat rajut dan lumpur.

Di sekolah Waldorf tidak akan ditemukan satu layar komputer pun. Para
pendidik dan orangtua percaya bahwa pendidikan dan teknologi tidak bisa
dicampuradukkan. Para pendidik di sekolah Waldorf percaya bahwa komputer
menghambat pemikiran dan gerakan kreatif anak, serta mengurangi interaksi
antarmanusia secara langsung. “Saya secara fundamental menolak gagasan
bahwa pendidikan pada sekolah dasar membutuhkan alat bantu teknologi. Ide
bahwa iPad dapat mengajarkan anak-anak saya membaca dan melakukan
aritmatika itu konyol,” jelas Alan Eagle (50), salah satu orangtua murid
yang menyekolahkan putrinya di sekolah Waldorf.

Eagle sendiri mengerti tentang teknologi. Ia bahkan memegang gelar Ilmu
Komputer dari Dartmouth dan bekerja sebagai Communication Executive di
Google Inc, di mana ia pernah menulis pidato untuk eksekutif Google, Eric E
Schmidt. Ia mengatakan, putrinya bahkan tidak tahu bagaimana cara
menggunakan Google dan itu tidak masalah baginya.

Eagle menambahkan, tiga per empat siswa di sekolah ini memiliki orangtua
dengan koneksi teknologi yang kuat. Ia melihat tidak ada kontradiksi dengan
memilih menyekolahkan anaknya di sekolah tanpa teknologi. Sementara sekolah
lain memenuhi ruang kelas dengan kabel, sekolah ini justru hanya berhiaskan
papan tulis dengan kapur warna-warni, rak buku ensiklopedi, meja kayu penuh
workbook, dan pensil-pensil.

Sekolah Waldorf mengajarkan anak-anak kelas lima untuk melakukan
keterampilan merajut, membuat kain, sampai membuat kaus kaki. Anak-anak
juga diajari berhitung dengan cara-cara unik, seperti memotong buah menjadi
beberapa bagian dan kegiatan lainnya yang menuntut kreativitas guru dan
siswa.

Beberapa ahli pendidikan mengatakan, dorongan untuk melengkapi ruang kelas
dengan komputer adalah tidak beralasan karena belum ada studi yang
menyatakan bahwa teknologi membuat anak-anak di sekolah dasar lebih cepat
mengalami perkembangan kreativitas. Namun, apakah belajar merajut dan
belajar pecahan melalui potongan kue atau buah adalah alternatif yang lebih
baik, juga belum dipastikan secara ilmiah.
Sepertinya ini dunia yang menyenangkan 🙂


pustakaku, ilmuku

November 2, 2011

Perpustakaan SD Muhammadiyah Plus kebanjiran buku lagi dari PT Suprama Sidoarjo dan JP Books Surabaya yang diserahkan kepada petugas perpustakaan (pak Tib) dan kepala sekolah (bu Ami).  Bantuan buku senilai Rp5.000.000,00  (lima juta rupiah) itu mampir di perpustakaan pada pukul 16.23 tepatnya Kamis, 20 Oktober 2011 setelah melalui survey yang dilakukan bulan Juli yang lalu…

Tanya punya tanya mengapa SD Muhammadiyah Plus terpilih sebagai sekolah penerima? Ternyata kriterianya didasarkan pada bagaimana sekolah mengelola perpustakaan sebagai gudang buku sekaligus jendela ilmu pengetahuan.  Bukti fisik yang paling jelas adalah dari gedung perpustakaan yang dipunyai oleh sekolah dan juga penataan buku pada rak, tidak lupa juga petugas yang siap mendampingi anak-anak untuk membaca buku.