bagaimana menjadi kaya?

September 12, 2011

Sekedar Renungan Buat kita Semua
Semoga Bermanfaat

Suatu ketika
Seorang ayah dari keluarga kaya raya,
bermaksud memberi pelajaran,
bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya

Mereka menginap beberapa hari di rumah
keluarga petani yang miskin,
di sebuah dusun di tepi hutan

Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anaknya
Bagaimana perjalanan kita?
Oh sangat menarik ayah

Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup?
Sang ayah bertanya.

Ya ayah, sahut sang anak.
Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini?
Tanya sang ayah.

Sang anak menjawab:
Yang saya pelajari kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, mereka punya empat anjing untuk berburu.
Kita punya kolam renang kecil di taman, mereka punya sungai yang tiada batas…

kita punya lampu untuk menerangi taman kita,
mereka punya bintang yang bersinar di malam hari.
Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup
mereka hidup bersama alam

Kita punya pembantu untuk melayani kita,
tapi mereka hidup untuk melayani orang lain.
Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita,
mereka punya banyak teman yang saling melindungi

Sang ayah tercengang diam mendengar jawaban anaknya
Lalu sang anak melanjutkan,
Terima kasih ayah,
karena ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita

Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan?
Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki, dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki..

Advertisements

passport

August 23, 2011
Tulisan ini nampaknya menarik untuk kita simak jika kita peduli tentang pendidikan anak bangsa…
PASSPORT
Oleh Rhenald Kasali
[Jawapos, 8 Agustus 2011]
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa
orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya
sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah
naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah
pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah
pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR
dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi
tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin
memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet,
terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu
kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan,
pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia,
Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu
dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu.
*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang
bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi
kehidupan dan tujuannya dari uang.
*Dan begitu seorang pemula bertanya
uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir
pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga
para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah
melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas
kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut
sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.
Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.
Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan,
teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para
pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok
backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah,
menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang
bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka
sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis,
yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang
yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh,
bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah
rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima
Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang
dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko,
menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut
kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan
menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain
kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat
teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi
eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
*

The Next Convergence*
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel
ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari
Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk
dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin
masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan
miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak
pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket
pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi
para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima
ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis
melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan
jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu
pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah
kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan
infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada
di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan
memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas
Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat
minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus
Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung
melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau
diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka
perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia
ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf
tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti
menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah
punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi,
jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket,
menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan
kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya
sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun
kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka
anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu
tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang
mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang
meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki
daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit.
Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita,
gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki
pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport
pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di
Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe
yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya
mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus
Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

*Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia *

*RAIHLAH ILMU, DAN UNTUK MERAIH ILMU, BELAJARLAH UNTUK TENANG, DAN SABAR. *

*(KHALIFAH UMAR R.A.)*


Mendidik dengan Introspeksi

May 27, 2011

Dr. Arun Gandhi, cucu mendiang Mahatma Gandhi bercerita, pada masa kecil ia pernah berbohong kepada ayahnya. Saat itu ia terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki, padahal sesungguhnya mobil telah selesai diperbaiki hanya saja ia terlalu asyik menonton bioskop sehingga lupa akan janjinya.

Tanpa sepengetahuannya, sang ayah sudah menelpon bengkel lebih dulu sehingga sang ayah tahu ia berbohong.

Lalu wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap Arun sang ayah berkata: “Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenungkan di mana letak kesalahannya”

Dr. Arun berkata: “Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun.

Seandainya saja saat itu ayah menghukum saya, mungkin saya akan menderita atas hukuman itu, dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya. Tapi dengan tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah, meski tanpa kekerasan, justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri saya sepenuhnya”.

Para orangtua, mari kita membiasakan diri untuk selalu bertanya,”Apa yang salah dari saya, mengapa anak saya bisa seperti itu? Cerita ini Semoga bermanfaat bagi kita semua.


Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari bangsa Barat?

February 21, 2011

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians
Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi
ternyata menjadi “best seller”. (www.idearesort.com/trainers/T01.p)
mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan
pikiran banyak orang.

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup
adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).
Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang
kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang
dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya
mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh
pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/ diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban”
bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis
hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak
mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of
none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Bila anda juga tertarik utk mengetahui lebih banyak silahkan search di
Google atau pesan bukunya ke Amazon.com

Dalam bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang
yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa
diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada
bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang
lebih cepat menghasilkan uang

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran dan berani ambil resiko. AYO
BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui
dengan bangga kalau kita tidak tahu.

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orangtua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya. Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi
tanpa korupsi.

 


Ketika “facebook” berlabuh

November 6, 2010

Zaman sudahberubah.. Keberadaan dunia internet sudah tidak dapat dibendung lagi..  Jejaring sosial (baca: facebook, twitter) sudah menjadi menu sehari-hari kita.. Begitu juga kami (baca: guru, siswa, orangtua/wali murid).  Itu semua merupakan tahap yang mau tidak mau harus kami lalui.

Sebagai suatu lembaga pendidikan yang juga merupakan “bengkel akhlak”, kami tertantang untuk menyelami dunia itu.  Banyak pertanyaan yang harus kami jawab untuk mengakui bahwa dunia internet dan jejaring sosial layak untuk anak usia SD.

Facebook memang tidak pernah menjadi matapelajaran ataupun kurikulum dalam sekolah.  Tetapi, sangat mengherankan bahwa hampir semua orang kenal dan dapat menggunakannya.  Keberadaannya sangat dibutuhkan untuk menunjukkan eksistensi seseorang.  Bahkan menjadi indikator penentu suatu keberhasilan menggenggam dunia mengalahkan keberadaan Blog.

Coba kita telusuri, untuk apa saja sich kita menggunakan facebook?

1. Mencari teman

Jika kita kehilangan kontak dengan teman kita, sangatlah mungkin kita bisa temukan di facebook dengan fasilitas “search”nya.  Bahkan dengan jelas kita akan tau alamat atau sekolahnya dengan membaca “profile” nya.  Dengan demikian, jalinan silaturrahmi akan terbentuk kembali.

2. Sharing pendapat

Kita mempunyai pendapat yang ingin dishare dengan teman-teman kita? cukup kita update status kita, maka teman-teman yang tertarik akan memberi komentar ke status kita. Fasilitas ini bisa digunakan untuk memberitahukan ke teman kita kalo ada PR lo…

3. Mengirim pesan private

Seperti halnya pesan SMS, kita bisa mengirim pesan secara private ke teman kita. Bahkan bisa sepanjang halaman folio jika kita mau.  he..he.. wah, jangan-jangan mau digunakan untuk mengirim jawaban PR…

4. Menyimpan dan membuat album foto

Ini juga salah satu fasilitas yang mengasikkan… kita bisa menyimpan foto kita ratusan jumlahnya sehingga foto-foto tidak perlu untuk dicetak.  Irit kan!!!  tidak hanya foto lo.. video juga bisa.

5. Membuat grup

Ingin mengumpulkan teman yang hobinya sama? di sini tempatnya.. kita bisa mengundang teman-teman kita untuk bergabung dalam grup tertentu, misalnya english club, science club… dalam grup itu, kita bisa share pendapat atau pengetahuan dari teman-teman kita yang minatnya sama.

6. Membuat buku harian pribadi

Dengan fasilitas note, kita bisa membuat catatan-catatan kecil, uneg-uneg kita, dan catatan lainnya yang bisa dirahasiakan, dishare dengan orang tertentu, atau semua dapat membaca.. Itu semua dapat kita atur.

Nah.. masih banyak sebenarnya hal positif  yang dapat dieksplorasi dari facebook.  Facebook memang banyak manfaatnya tetapi banyak juga mudharatnya… Yang pasti, berpikirlah positif tentang hal yang baru sehingga kita dapat memanfaatkannya secara maksimal..

SD Muhammadiyah Plus selalu mencoba mengikuti perkembangan zaman.  Ketika “facebook” berlabuh dan anak-anak kami penumpangnya, maka guru-guru akan menjadi nahkodanya yang mengarahkan kemana akan mendarat…


Libur tlah tiba…

June 27, 2010

libur tlah tiba… libur tlah tiba.. horeee..horeee…horeeee…

sekelebat terlintas di benak kami lagu lantunan “tasya kecil”… selamat libur anak-anakku sayang… bapak/ibu guru mengantarkan sampai ke gerbang raportan dengan segudang rasa bangga…

bangga dengan prestasi anak-anak secara agama, akademik, bahkan sikap dan perilaku…  beberapa prestasi yang sudah diraih di tahun 2010 adalah:

1. Juara 1 tingkat kota mojokerto lomba mengarang  dalam rangka HAN a.n. Dinda kelas 5

2. Sepuluh besar lomba catur tingkat kota mojokerto dalam rangka HAN a.n. Vania kelas 5

3. Juara harapan 1 siswa berprestasi putra sekota mojokerto a.n. Ridwan kelas 5

4. Juara harapan 2 siswa berprestasi putri sekota mojokerto a.n. Dinda kelas 5

meskipun libur kami mengharap anak-anak tidak melupakan tugas-tugas dan kewajiban terhadap Tuhannya…

secara kalender akademik memang libur, tapi kami sebagai guru tak pernah berhenti untuk memikirkan inovasi-inovasi terbaru untuk menghadapi tahun pelajaran 2010/2011…

beberapa agenda kami sdh tertata rapi:

25 Juni 2010    Pelatihan guru dan openhouse siswa baru

28 Juni 2010    Refresing guru

30 Juni 2010    Pengumpulan tugas-tugas guru

12 Juli 2010     Masuk sekolah dengan metode terbaru untuk kelas 4, 5, 6 yaitu moving class


Busuknya Kebencian

April 11, 2010

Seorang Guru mengadakan “permainan”.
Guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. masin-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa … tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk,murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1minggu ?”

Keluarlah keluhan dari murid-murid tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

Guru :“Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya …”